Jumat, 25 September 2015

Diving as recreation and as an extreme sport





Anak Kampung jadi penyelam




Tidak selalu buruk menjadi anak kampung. Saya malah suka menjuluki diri sendiri sebagai anak kampung apalagi kampung saya dekat dengan tempat penyelaman populer dunia, Raja Ampat. Well, sebenarnya bukan kampung juga sih, saya besar di kota Sorong yang setidaknya memerlukan 2 jam perjalanan dari Raja Ampat jika naik kapal penumpang massal. Tapi jika dibandingkan dengan Jakarta atau kota besar lainnya, Sorong otomatis terlihat seperti kota sangat kecil.
Absennya tempat rekreasi ala anak kota seperti mall dan bioskop membuat liburan keluarga bagi saya selama belasan tahun ini diisi dengan mendatangi pantai-pantai tak berpenghuni disekitar Sorong dan Raja Ampat. Sebagai anak kampung, pengetahuan saya tentang “menyelam” adalah berenang sejauh mungkin dibawah permukaan air laut dengan menahan napas selama mungkin. Ternyata pengertian sederhana saya tersebut membawa saya keolahraga selam sebenarnya melalui kelas sertifikasi penyelam pemula.
Pengertian menyelam yang sebenarnya atau yang disebut Scuba diving adalah cara menyelam dengan membawa alat bantu pernapasan yang diisi dengan kompresi udara kedalam air. Scuba diving termasuk cabang olah raga berbahaya dan beresiko tinggi lho. Jadi kita harus belajar dulu sebelum menikmati indahnya alam bawah laut.



Apa saja sih bahayanya?

Semuanya bahaya!!!! Sebab kita sebagai manusia hakikatnya hidup didarat bukan didalam air. Itu alasan dasarnya, maka tubuh kita memerlukan banyak sekali penyesuaian agar dapat bernapas di dalam air. Nah setelah belajar, kemudian bahaya-bahaya tersebut menjadi punya nama-nama  keren seperti barotrauma, decompression illness, nitrogen narcosis, hiperkapnia, oxygen toxicity, panic attack, dan masih buanyak lagi. Inti permasalahan dari beberapa nama-nama keren diatas adalah perbedaan tekanan yang dialami tubuh ketika menyelam.
Penyelam dilarang menahan napas ketika naik kepermukaan. Udara / gas yang ada ditubuh kita akan mengalami perubahan volume menjadi lebih kecil ketika menyelam dan volume mengembang ketika kita bergerak naik kepermukaan. Jika gelembung udara ditahan didalam paru-paru akan mengembang dan merusak paru-paru, seperti halnya meniup balon terlalu besar dan akhirnya pecah. Menahan napas juga mengakibatkan hiperkapnia yaitu kadar CO2 dalam tubuh meningkat. Gejalanya: kepala sakit, mual, dan sesak napas.
Di dalam rongga telinga kita juga terdapat udara yang akan mengecil volumenya sehingga tekanan dari luar menjadi lebih besar. Hal ini mengakibatkan rasa sakit pada telinga. Untuk mengatasi masalah ini dilakukan equalisasi, yaitu menyamakan tekanan udara di rongga telinga dengan tekanan udara dalam air. Caranya sederhana dengan memencet hidung dengan kedua jari sehingga kedua lubang hidung tertutup, kemudian memaksa mengeluarkan napas yang karena hidung tertutup akan keluar melalui kedua lubang telinga. Mirip caranya equalisasi ketika kita naik pesawat dan merasakan sakit pada telinga karena perbedaan tekanan udara.
Penyelam harus patuh pada ketentuan dive tables yaitu rumusan batas waktu maksimum yang diperbolehkan pada kedalaman tertentu. Tekanan yang tinggi akan memampatkan gelembung nitrogen dan oksigen sehingga dapat larut dalam darah. Jika terlalu lama berada di kedalaman tertentu maka kandungan gas menjadi berlebihan didalam darah sehingga dapat menyebabkan keracunan dan berpotensi mengakibatkan kematian.

Bahaya Ekternal

Itu diatas baru sedikit lho, masih banyak lagi bahaya akibat diving lainnya. Jangan lupa faktor lain yang juga tidak kalah serunya termasuk bersentuhan dengan hewan beracun atau buas didalam air, kerusakan alat selam, hipotermia, tiba-tiba panik, arus kencang yang membuat kita hanyut, bahkan keracunan udara dari tangki scuba kita sendiri.
Pernah sekali saya menyelam di Bunaken dan terkena arus yang cukup kencang dan tidak bisa maju. Untuk bertahan dari arus, saya berniat untuk memegang “karang”. Sebelum tangan saya berhasil menggapai karang, tiba-tiba tangan saya sudah dipukul menggunakan diving stick oleh dive master. Kaget banget dong digituin, tapi kagetnya gak seberapa setelah melihat “karang” tersebut mulai bergerak berlahan. Ternyata saya hampir saja memegang scorpion fish yang terkenal dengan racunnya yang mematikan dengan tangan telanjang.
Pernah juga suatu kali saya dibuntuti oleh ular laut hitam putih yang panjangnya ±2,5m. Ada 5 orang penyelam yang saat itu dan dia memilih untuk mengejar saya. Bagaimana saya tidak terharu coba? Setelah “selamat” dari rayuan ular (arti sebenarnya), dirumah saya browsing tentang ular laut tersebut dan ternyata mereka tidak agresif. Jadi saya berasumsi dia tidak berniat mencicipi lemak saya cuma mau ikut nimbrung aja. Atau bunga api dan hydroid yang bikin gatal dan luka bahkan sengatan-sengatan kecil dari ubur-ubur jadi cerita lucu yang bisa dibagi ke teman-teman.

Lalu kenapa saya masih saja diving?



Karena dunia bawah laut itu seru banget. Saya bisa bertemu dengan hal-hal baru yang menakjubkan. Tingkah-tingkah hewan yang lucu-lucu seperti melihat ikan ngantri di cleaning station untuk dibersihkan oleh udang atau ikan kecil. Karang-karang warna-warni yang cantik membius mata, menjadi obat relaksasi dari penatnya kerjaan kita di darat. Sampah-sampah, karang mati, dan pasir berlumpur yang tidak cantik menurut mata juga menyimpan keindahannya sendiri dengan kehadiran hewan-hewan aneh seperti coconut octopus, electric clam, pegasus, dan mandarin fish di Lembeh. Hewan seperti apa itu? Silahkan google!! Selain itu bergerak dengan tidak melangkahkan kaki membuat saya berasa sedang terbang. Ohya, hunting foto bagus untuk dipamerin ke teman-teman dan di like banyak orang di medsos juga jadi pengobat kantong kering karena diving (silahkan follow instagram saya di @gtanery, sekalian numpang iklan. hehehee…). So, What’s not to dive then? But please, do learn. It’s you yourself, you’re saving by learning.
Saya beruntung karena sejak awal belajar, saya bertemu dengan senior-senior yang “responsible diver” banget. Mereka mengetahui banyak tentang laut, biota laut, dan penyelaman. Saya juga diajarkan untuk selalu menjaga diri dengan memahami materi, dan wajib menjaga kelestarian laut beserta isinya termasuk terumbu karang. Dan mereka GALAK!!!

by : Gaby Tanery

0 komentar:

Posting Komentar